• Flickr Photos

    More Photos
  • blog-indonesia.com
  • KALIMAT RENUNGAN

    ikon4

    "Kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik,akarnya teguh,dan cabangnya (menjulang) ke langit"

    (Ibrahim : 24)

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat merumuskan prinsip-prinsip,menyegarkan jiwa,menggerakan generasi,dan mendirikan sebuah bangsa.

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang memperbaiki kesalahan,mengukuhkan keadilan,meringankan kebatilan, dan menghapus penyelewengan.

    Kalimat yang baik adalah cara kerja,keuntungan masa lalu,musik penyemangat hari ini,dan harapan yang menjanjikan di masa mendatang

    ( Sentuhan Spiritual Aidh al Qarni : Dr.’Aidh al-Qarni )
  • Kategori

  • Arsip

    • 291,182 Hits
  • Alat Penerjemah


    google translate
  • BLOGROLL

  • MEMBINA PROFESIONALISME GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS

    264Banyak guru yang mengalami masalah/kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami guru atau kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang dipahami peserta didik. Supervisi klinis yang dilakukan pengawas sekolah kepada guru merupakan salah satu upaya membantu guru untuk mengatasi masalah yang dialaminya dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran.

    Ada tiga tahap kegiatan yang dilakukan dalam supervisi klinis yakni tahap pertemuan awal, tahap pengamatan guru mengajar, serta tahap analisis hasil pengamatan dan tindak-lanjutnya. Supervisi klinis dapat diartikan sebagai bantuan profesional kesejawatan yang diberikan kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar guru yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis mencakup tahap perencanaan, tahap pengamatan perilaku guru mengajar, serta tahap ana­lisis perilaku dan tindak lanjut. Indikator keberhasilan pelaksanaan supervisi klinis adalah: (a) meningkatnya kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran, (b) kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru menjadi lebih baik sehingga diharapkan akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar yang dicapai siswa, dan (c) terjalinnya hubungan kolegial antara pengawas sekolah dengan guru dalam memecahkan masalah pembela­jaran serta tugas-tugas profesinya.

    (Sumber : Prof.Dr.H.Nana Sujana : SUPERVISI AKADEMIK)


    About these ads

    16 Tanggapan

    1. Pa Indra yang kami hormati,

      Persoalan supervisi klinis sempat menjadi perdebatan dalam diskusi sesama pengawas. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa supervisi klinis bisa dilakukan sebelum melaksanakan supervisi akademik, ada yang berpendapat sebaliknya, padahal supervisi klinis juga merupakan bagian dari supervisi akademik,yang berbeda adalah bidikan atau fokus. Menurut hemat kami Supervisi akademik dan Supervisi Klinis sedikit berbeda. Kalau Supervisi Akademik berfokus pada pembinaan guru untuk mencapai kompetensi secara keseluruhan terkait dengan pembelajaran, sedang supervisi klinis lebih melihat pada penyakit pembelajaran yang timbul dari seorang guru dan harus diobati (perbaikan pembelajaran ). Masing-masing memiliki prosedur yang berbeda pula, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni membuat guru menjadi lebih profesional.

      Terima Kasih, Semoga saya tidak keliru.

      Sonny Renyut,
      Merauke, Papua
      @.Terima kasih telah berkomentar di blog ini.Supervisi klinis itu persis seperti yang diutarakan Pak Samson.

    2. masih blm paham

    3. masalah kemampuan seorang pengawas memang seharusnya “BEYOND TEACHERS’ competence”
      tapi banyak hal juga yang membuat pengawas enggan datang melakukan supervisi karena sering kali sikap kepsek n guru nya kurang respect dan curiga atas kedatangan pengawas. seharusnya paling tidak dilakukan 3 kali kunjungan dalam 1 semester coz sedikitnya btuh 3 tahappembinaan jadinya kita hanya 1 kali saja dalam 1 semester . bisakah kita saling percaya?

    4. Selama Pemkab/walikota yang merekrut pengawas maka kompetensi pengawas sekolah tidak akan mendekati kompetensi yang di amantkan permen 12 karena pengankatan oleh bupati/walikota sarat dengan politis

    5. Terima kasih atas tulisannya.
      @.Sama-sama.

    6. Iya sih supervisi klinis itu bagus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang bertujuan setelah dievaluasi siswa memperoleh hasil yang baik, tetapi sering dijumpai ketika perangkat pembelajaran / RPP guru sudah bagus, e….. ternyata pelaksanaannya tidak sesuai, karena guru sering lupa ….,.tidak membawa media pembelajaran, metodenya seadanya, padahal ketika ada supervisi kelas dalam rangka sertifikasi dapat melaksanakan dengan bagus sesuai RPP. Nah …….berarti perlu peningkatan kesadaran guru bahwa perencanaan yang baik menjadi hasil kurang baik karena tidak dilaksanakan dengan baik

    7. bagus sekali pak ada supervisi klinik oleh pengawas terhadap guru. perlu diketahui bhw pengawas adalah mitra guru bukan eksekutor yg menjatuhkan guru yg selama ini dirasakan sebagian guru. Ini kenyataan pak. karena banyaknya tugas dan kewajiban guru sehingga sebagian guru tidak sempat lagi memberikan pengajaran terbaik kpd siswanya. mengevaluasi kekurangan mereka saja tdk sempat apalagi berinovasi. Supervisi ini dpt dijadikan solusi.trims pak .sukses selalu.maaf kalau ada yg salah
      @.Terima kasih pak Arifin,bapak benar.Mudah-mudahan rekan-rekan pengawas membaca komentar bapak ini.

    8. kalau permasalahan supervisi klinis ada pada pengawasnya atau kepala sekolah, kenapa tidak kepsek aja yang disupervisi?? pengawas sekolah dari disdik untuk kepsek
      @.Bisa juga Pak,kan kepala sekolah juga wajib ngajar 6 jam.

    9. Kesimpulan yg dapat diambil dr supervisi klinis (utk PS profesional)di SD lebih dr 50% masalah peningkatkan mutu pembelajaran disebabkan oleh kurangnya kompetensi guru. Lebih dr 80% guru SD mengajar tanpa media pembelajaran/alat peraga.
      Masalah pertama, rekrutmen guru (PNS) seperti ngangkat tentara tahun 45. siapa yg pernah ikut melawan belanda/jepang dibuktikan dengan surat keterangan dijadikan tentara, minimal dpt tunjangan Veteran. Sekarang terjadi…., entah latar belakangnya apa, honor di SD, ada yg dr SMK,SMA dll. Trus nuntut diangkat jd guru “betulan”, diangkat, deh. Nah jelas ….. bidang keilmuannya pantas diragukan.
      Masalah kedua, tidak adanya aturan yg begitu ketat terhadap kinerja guru. Yg males…., yg rajin…..,yg pinter…., pokoknya digaji sesuai “PGPS, Pinter Goblok Penghasilan Sama”
      Solusi…
      Pertama : Guru profesional biasanya dihasilkan oleh LPTK yang bonafit, Pemerintah mesti kerja sama dgn LPTK, angkat 10 lulusan terbaik tanpa tes. Selain mendapatkan produck yg jelas,jg dapat meningkatkan minat dan memacu para mahasiswa untuk berprestasi. (Lha ponakanku gimana…..?)
      Kedua : Minimal Kepala Sekolah hrs mampu dan mau memberikan reward bg guru yg berprestasi mengharumkan nama baik sekolah, buatkan surat keterangan bahwa pernah membimbing anak sampai menjadi juara….. Syukur ada hadiahnya. Lomba guru berprestasi hrs transparan jgn asal tunjuk untuk mewakili, dgn alasan efisiensi krn gak ada dana seleksi….. (memalukan)
      Kira-kira seperti itu….. Mohon maaf kl ada kata yg kurang berkenan….
      Lha Sumangga…..
      @ Saya senang komentar Mas Pandu.Ini kan realita,mudah-mudahan para pendidik,kepsek,pengawas,dan disdik bisa bersinergi secara profesional.

    10. setelah membaca blog ini ada kawan saya yang mau tertawa tapi hanya ditahan di dalam hati sehinngga sakit perut namun keluar air mata, gimana mau klinis klinisan lha wong masalahnya pengawas lebih banyak dari pada gurunya……..? katanya lagi, yang sangat perlu diklinisi adalah pengawasnya dulu yang akan menjadi supervisernya, gitu…….lhoooooo…. selesai mendengarnya saya langsung geleng-geleng kepala.

      @.Pengawasnya…dimana dulu ..dan siapa dulu ?he..he..eh.Justru lahirnya blog ini untuk memberi bantuan/sharing dengan pengawas,kepala sekolah,guru,salah satunya masukan dari anda ini,thanks

    11. Jika penerapan supervisi klinis itu sesuai prosedur… kemungkinan besar guru tidak susah lagi dalam mengajar, karena masalah-masalah guru dalam mengajar akan ada solusinya dari sopervisor.. sehingga tujuan pendidikan akan tercapai…

      @.Benar Pak Tengku,masalahnya masih banyak rekan pengawas yang kurang menguasai kompetensi Supervisi.

    12. tahap supervisi di sekolah dimulai dengan persiapan oleh supervisor, persiapanpersiapan meliputi data-data, alat tuk supervisi, hal yang disupervisi, pelaksanaan supervisi dan penilaian hasilsupervisi.

      @.Terima kasih Pak Yudhi atas tambahannya.

    13. Supervisi klinis/akademik sangat perlu bagi peningkatan mutu pendidik. Pelaksana Supervisi klinis yang utama adalah Kepala Sekolah (KS), dibantu guru-guru, baru pengawas sekolah. Supervisi Klinis idealnya satu semester sekali olleh KS dibantu guru-guru. Dan hasilnya analisis dan ditindak-lanjuti seterusnya di rekomendasikan pada pemangku kepentingan dan baru pengawas memprogram bersama KS supervisi klinis Jadi tidak akan terjadi pengawas bertindak sebagai “mandor” dan yang utama pengawas berperan sebagai mitra guru karena pada hakekat pengawas adalah guru. Kalau pengawasnya sebagai ” mandor” menjaga jarak itu pengawas jadul. tidak berkompeten ………. he he ayo bekerja lebih profesional
      @.Siap bu !

    14. Kalau boleh tulisan yang akan dimuat disini adalah laporan hasil penelitian supervisi klinis sekolah-sekolah di Indonesia.
      @.Terima kasih usulannya.Mudah-mudahan ke depan bisa ditampilkan.

    15. Dalam melakukan supervisi klinis, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut. Pertama, bagaimanakah kualitas sang supervisor, dalam hal ini pengawas. Apakah pengawas sudah memiliki kompetensi sebagai supervisor. Artinya, dalam melakukan supervisi klinis, supervisor benar-benar memahami dan menguasai tujuan supervisi klinis. kdua, bagaimana hubungan personal dan jabatan antara supervisor dan guru. Jika selama ini, pengawas bertindak sebagai “mandor” yang menjaga jarak, saat supervisi klinis dilaksanakan, bukannya guru menjadi terbantu atau ‘tersembuhkan’ dari berbagai kesulitan yang dihadapinya saat melaksanakan tugasnya sebagai guru, melainkan justru kesulitan tersebut akan semakin KRONIS.

      Dari H.Indra :
      Yang ibu katakan benar,makanya pengawas itu harus profesional,salah satunya harus memiliki kompetensi supervisi,Makanya pengawas itu jangan asal comot,pengawas perlu menguasai wawasan kepengawasan,
      Mudah-mudahan komentar bu Maria akan memotivasi pengawas-pengawas untuk lebih meningkatkan kompetensinya.
      Terima kasih.

    16. Supervisi Klinis sangat dibutuhkan oleh para guru.
      Melihat data empiris menurut saya ada hal yang lebih urgen lagi adalah Caracter Building . Dengan terbentuknya kesadaran terhadap para guru akan tugas dan tanggungjawabnya bukan hanya sekedar Transfer Of Knowledge tetapi sebagai Agent of change maka istilah yang umum di lapangan ” yang penting masuk kelas ” akan bisa dikurangi dan bahkan dihilangkan. Side efect dari itu semua adalah akan terbentuk budaya guru yang selalu mengupdate dirinya terhadap tugas dan fungsinya sebagi pendidik dengan selalu berusaha unutk bekerja lebih baik serta memberikan pelayanan terbaik terhadap peserta didik. Mudah-mudahan. Amien

      Dari H.Indra.K :
      Terima kasih atas masukannya,

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: