• Flickr Photos

    Lebih Banyak Foto
  • blog-indonesia.com
  • KALIMAT RENUNGAN

    ikon4

    "Kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik,akarnya teguh,dan cabangnya (menjulang) ke langit"

    (Ibrahim : 24)

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat merumuskan prinsip-prinsip,menyegarkan jiwa,menggerakan generasi,dan mendirikan sebuah bangsa.

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang memperbaiki kesalahan,mengukuhkan keadilan,meringankan kebatilan, dan menghapus penyelewengan.

    Kalimat yang baik adalah cara kerja,keuntungan masa lalu,musik penyemangat hari ini,dan harapan yang menjanjikan di masa mendatang

    ( Sentuhan Spiritual Aidh al Qarni : Dr.’Aidh al-Qarni )
  • Kategori

  • Arsip

    • 337,216 Hits
  • Alat Penerjemah


    google translate
  • BLOGROLL

  • My favourite room in my house (Library)

Home Scholling, Alternatif Menghindari Bullying di Sekolah

Jakarta – Belakangan ini mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah yang menawarkan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran link and mach yang cenderung praktis. Bahkan konon lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik.

Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Hampir di seluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling yang tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satunya yang diprakarsai Praktisi Pendidikan, Seto Mulyadi, atau yang akrab dikenal Home Scholling Kak Seto (HSKS).

Bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri, substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning

Namun, menurut Kak Seto dari banyak anak yang memilih bergabung ke Home Scholling, kebanyakan mengaku tidak nyaman dengan pendidikan di sekolah formal yang cenderung kaku. Bahkan, sebagian siswa merupakan siswa yang menjadi korban kekerasan teman di sekolah atau bullying.

“Home Scholling ini kan salah satu pilihan. Sesuai pasal 26 dan 27 Undang-undang Sisdiknas, pendidikan itu bisa ditempuh melalui tiga jalur; formal, non fomal, informal. Jadi kalau anak bermasalah dengan sekolah formal, misal faktor psikologi karena ada bullying di sekolah, ya sudah, mereka bisa belajar sendiri di rumah, dan itu boleh,” terangnya saat ditemui di kediamannya di Perumahan Cirendeu Permai, Tangerang, Selasa (26/4/2011) kemarin.

Menurut Kak Seto, home schooling memiliki model pendidikan yang berbeda jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hobi individual dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik.

“Bahkan ada home scholling yang tak perlu ijazasah, yang penting kamu bisa hidup, misalnya mempelajari matematika hanya yang penting-penting saja. Sebab, banyak orang yang menguasai matematika seperti logaritma tapi banyak utang dan tak bisa menghitung waktu. Jadi buat apa mempelajari matematika kalau tak bisa mendukung untuk life skill. Jadi home scholling adalah pilihan bagi anak yang memperoleh masalah psikologi dan itu legal diakui Kemendiknas,” paparnya.

Ia mencontohkan, salah satu home scholling ‘Karya Toyyibah’ yang berada  di Salatiga bahkan para muridnya memiliki kemampuan di atas rata-rata sekolah normal. “Anak SMP di sana masih sekolah di atas tanah. Saya tanya mereka sekolah dari jam berapa? Merek jawab dari jam setengah tujuh sampai habis  sholat Magrib. Tapi mereka sekolah senang banget. Bagi ada siswa SMP tersebut yang berhasil membuat disertasi judulnya, ‘UN tidak ada gunanya’,” ujarnya.

Yang terpenting, kata Seto, proses belajar mengajar harus memperhatikan potensi diri dengan maksimal. Pendidikan harus menampung kreatifitas anak di dunia seni, budaya, dan sebagainya. (imm/imm)


Today.co.id, 27 April 2011

5 Tanggapan

  1. Reblogged this on bagilmuindonesia and commented:
    Pendidikan Alternatif

  2. Home schooling perlu dikembambangkan lebih jauh lagi, masalahnya untuk menjadi pns melihat ijazah, bukan kompetensi.

  3. orang tua akan melihat keberhasilan HS ini. Jika berhasil, tentu mereka akan berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sana

  4. setuju eti. Perlu waktu buat melihat hasilnya. Dan jika nanti terbukti berhasil, tentu orang akan melihat akan menuju kemana pendidikan anaknya diarahkan.

  5. Meskipun banyak pendapat yg menyatakan hal hal positif mengenai Home schooling akan tetapi hal itu tetap saja merupakan gagasan baru di lingkungan masyarakat kita yang pada umumnya sudah berabad-abad mengikuti sistem pendidikan formal, oleh sebab itu H S ( Home Schooling ) perlu di lakukan uji coba dan yang jelas semua hal yang baru perlu di pertimbangkan terlebih dahulu. Di beberapa negara atau daerah tertentu mungkin cukup sukses tetapi mungkin di beberapa negara malah gagal. ibarat memilih jalan, semua cara atau keputusan / pilihan ada konsekuensi2 nya. tapi cukup significan tdk pengaruh home schooling pada keberhasilan siswa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: