• Flickr Photos

    Lebih Banyak Foto
  • blog-indonesia.com
  • KALIMAT RENUNGAN

    ikon4

    "Kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik,akarnya teguh,dan cabangnya (menjulang) ke langit"

    (Ibrahim : 24)

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat merumuskan prinsip-prinsip,menyegarkan jiwa,menggerakan generasi,dan mendirikan sebuah bangsa.

    Kalimat yang baik adalah kalimat yang memperbaiki kesalahan,mengukuhkan keadilan,meringankan kebatilan, dan menghapus penyelewengan.

    Kalimat yang baik adalah cara kerja,keuntungan masa lalu,musik penyemangat hari ini,dan harapan yang menjanjikan di masa mendatang

    ( Sentuhan Spiritual Aidh al Qarni : Dr.’Aidh al-Qarni )
  • Kategori

  • Arsip

    • 343,903 Hits
  • Alat Penerjemah


    google translate
  • BLOGROLL

  • My favourite room in my house (Library)

REKRUITMEN CALON KEPALA SEKOLAH DI ERA OTONOMI DAERAH

Baru-baru ini di kabupaten Karawang, propinsi  Jawa Barat ada fenomena munculnya “ketidakpuasan” guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah,hal ini terjadi dari tingkatan dasar hingga tingkat menengah.Sebut saja ada seorang kepala SMK yang “diresolusi” oleh guru-gurunya dengan cara mengumpulkan tandatangan,kemudian nota ketidakpuasan guru ini disampaikan kepada Dinas Pendidikan setempat,kasus lain ketika terjadi rotasi kepala SMP,guru-guru ada yang tidak menerima kehadiran kepala sekolah baru ini karena kepala sekolah yang baru ini ditempat lama memiliki track record yang jelek,demikian juga ada beberapa contoh kasus lain yang sejenis.Sebenarnya hal ini bukan baru terjadi tahun ini saja,karena beberapa kejadian seputar kasus kepala sekolah,terutama setelah lahirnya otonomi daerah  telah mewarnai berita-berita di media massa maupun elektronik. Saya berfikir,apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan guru-guru ini ?Apakah ini hanya menunjukan sifat arogansi guru-guru ditengah zaman keterbukaan ini ? Apakah ini menunjukan kepada kita bahwa kepala sekolah tersebut  kurang mampu alias ” tidak profesional” ? Atau bisa jadi karena kita para pengawas tidak pernah membina guru dan kepala sekolah sehingga terjadi gejolak seperti ini ? Jawaban ketiga pertanyaan diatas bisa benar semua,atau mungkin ada salah satu faktor dominan yang mempengaruhi munculnya gejolak tersebut.

Pada tulisan ini saya ingin menyoroti tentang faktor “Kepala Sekolah”.Harus kita akui bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini banyak regulasi pendidikan yang sengaja atau karena ketidaktahuan Pemda dilanggar,banyak contoh kasus,kepala sekolah yang diangkat umumya punya kedekatan dengan penguasa,terutama yang bermain di lapangan umumnya tim sukses dari penguasa.Hasilnya banyak kepala sekolah jadi yang belum layak,belum punya kemampuan,dan tidak mampu memimpin sekolah.Ujung-ujungnya guru-guru berteriak menunjukan ketidakpuasan mereka atas kepemimpinan kepala sekolah.Memang rumit jadinya kalau pendidikan sudah masuk ke ranah politik.Sistim yang terbentuk akan menimbulkan ketidakstabilan bahkan kekisruhan dalam rekruitmen calon maupun dalam rotasi kepala sekolah atau pejabat pendidikan lainnya. Beberapa kejadian seputar kasus kepala sekolah,terutama setelah lahirnya otonomi daerah  telah mewarnai berita-berita di media massa maupun elektronik. Pergantian Kepala Sekolah Oleh Walikota Pematang Siantar Melalui Kepala Dinas Pendidikan Setempat Tidak Transparan. (Metro Hari Ini / Nusantara / Sabtu, 10 Februari 2007),  Polemik Mutasi Kepala Sekolah (Kendari News – Kendari Pos Online, 25 September 2008) , Puluhan Kepala Sekolah di Jambi Protes Pencopotan (klubguru.com, 27 Feb 2009) , Kepala Sekolah di Ponorogo Sering dimutasi, Wali Murid Geruduk Sekolah (beritajatim.com, Selasa, 13 Juli 2010), Pergantian Kepala SMKN 1 Desa Gajah Berbuntut Panjang  (Harian global, 05 Agustus 2010) , Jelang Lengser, Bupati Sukoharjo mutasi 41 kepala sekolah secara mendadak (solopos.com, 25 Agustus 2010), Kasus Periodisasi Kepala Sekolah Akan Dibawa ke Pengadilan (Harian Pikiran Rakyat, 02 Oct 2010 )

Hal lain yang menyebabkan ketidakmampuan kepala sekolah dalam memimpin sekolah karena mereka sebelum dan sesudah menjabat kepala sekolah tidak dibekali dengan “diklat calon kepala sekolah”.Padahal dulu sebelum lahirnya otonomi daerah,calon kepala sekolah itu harus mengikuti diklat dulu di Yogyakarta selama sebulan.Coba tengok negara tetangga kita: Di Malaysia pelatihan calon kepala sekolah berlangsung selama satu setahun (enam bulan teori,enam bulan praktek), di Singapore pelatihan calon kepala sekolah dengan standar 16 bulan pelatihan, di Amerika menetapkan lembaga pelatihan untuk mengeluarkan surat izin atau surat keterangan kompetensi. Di Indonesia ?

Lahirnya Permendiknas No 28 Tahun 2010 akan menjadi solusi karena didalamnya telah memuat alur mulai dari rekruitmen calon kepala sekolah hingga penempatannya. Untuk lebih jelasnya lihat diagram dibawah ini : Alur Penyiapan Calon Kepala Sekolah Menurut Permendiknas No 28 Tahun 2010 : Klik Disini

Kalau memang Pemerindah daerah tidak mampu,kenapa tidak Pusat mengambil alih pengaturan kepala sekolah ini ? Semoga beres.

Iklan

4 Tanggapan

  1. menurut saya pendidikan mau maju disuatu lembaga pendidikan (SD-SLTA) tergantug KS-nya sebagai top manegernya,,,jika seseorg sudah dipercayakan oleh Allah untuk mengemban tugas sebagai seorang pemimpin walau perlu kita akui bahwa setiap manusia tdk akan luput dari kekurangan n keterbatasan namun menyadari tugas yg telah di percayakan maka KS tersbt harus berupaya semaksimal mungkin untuk dpt memajukan n meningkatkan kwalitas pendidikan di sekolahhnya .Tips saya,,,,tentunya kalo mengandalkan kemampuan sendiri ya otomatis pasti tidak bisa tapi cobalah berdoa dan memohon hikmad dan pengertian n kemampuan dari Allah niscaya walau tidak sesempurna yg didambakan oleh org pada umumnya namun pasti bisa dapat seseorg dapat menjalankan tugasnya dgn bak,,,,, slamat mencoba bagi setiap anak2 Tuhan yg mendapat kepercayaan sebagai seorg pemimpin ,,,, Tuhan pasti Menolong,,,GBU

  2. Kalau pendidikan mau maju…. pilih calon kepala sekolah yang kualified yang mampu memanage sekolah… jangan pilih calon yang hanya mengandalkan uang saja sementara kemampuannya tidak ada… kalau begini terus mau dibawa kemana pendidikan kita….???

  3. Sudah menjadi rahasia umum Kepala Sekolah sekarang ini orientasinya hanya uang, uang dan uang….. berlomba-lomba memanipulasi SPJ BOS… bendahara hanya dijadikan boneka saja. Coba Bapak/Ibu Pengawas berpikir…. untuk jadi kepala sekolah harus mengeluarkan uang yang begitu besar sementara skillnya tidak diperhatikan… wajar saja kalau ada gejolak di bawah karena ketidakmampuan kepala sekolah dalam mengelola sekolah…. jadi kesel tuh gurunya…..

  4. Pada suatu hari pak Menteri datang di Kabupaten ku, beliau berpesan kalau daerah mau maju “jangan sentuh pendidikan” sekarang aku baru merasakan bahwa kata Pak Meteri itu benar adanya. Kalau dunia pendidikan sudah diobok-obok orang-orang yang tidak bertanggung jawab tunggu kehancurannya. Indikatornya: 1) satu sekolah dibiarkan kosong, tidak ada KS (rangkap oleh KS sekolah lain) selama 12 bulan. Dalam sejarah di kabupaten ku kekosongan terlama, 2) KS hasil reformasi tidak pernah di diklat, atau kata kasarnya kompetensi dipertanyakan, 3) 2 tahun terakhir Raker Dinas Pendidikan nihil, manajemen kunamakan herok-herok arti he ini mau PSB, He ini mau EBTA/UN, he ini OSN 4) untuk menutupi kelemahan Pemda dalam menganalisis kebutuhan guru, jalan pintas yang dipakai yaitu dengan jalan menambah struktur program dari 36 jam perminggu menjadi 42 jam perminggu, Yang mengejutkan mata pelajaran Agama, PKN ditambah 1 jam perminggu, 5) Kalau ngurus naik pangkat berbondong-bondang, tapi kalau lomba guru prestasi sepi, semstinya kalau guru golongan IV banyak semestinya hasil karya ilmiahnya pasti banyak.
    Pemecahan masalah untuk itu: sabar, bar bar tapi tidak barbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: